Postingan

(Cerpen Fiktif) Nak, Bapak Tidak Bisa Menyebrang.

Gambar
“Goblok!!!” Bapak itu berteriak sambil mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil. Aku menunduk dan segera berlari ke pinggir jalan. aku yang berencana untuk menyebrang malah kembali ketempat semula. Aku menoleh ke beberapa arah. Tapi tidak ada yang ku kenal. Dimana aku ya Tuhaaaaaa? Aku tidak mau kemana-mana, aku hanya mau pulang. Aku tidak lupa arah, aku hanya sedikit tersesat. Bahkan aku tadi tidak naik kendaraan apa-apa. Tapi bagaimana mungkin aku bisa lupa arah? Aku hanya punya dua kaki lengkap dengan organ tubuh lainnya. Tak ada yang ku pegang selama ini selain tanganku yang hanya menggulung-gulung ujung kaos putih yang sekarang malah terlihat berwarna coklat. Aku berjalan kesana kemari sambil menggaruk-garuk kepala. Melihat kesekeliling dan berdoa dalam hati, siapa tahu aku mulai mengingat arah pulang. Ya ya ya, pulang. Aku mengikik sendirian. Haha. Aku mulai lupa seperti apa bentuk rumah ku. Aku mulai pasif membaca jam berapa sekarang. Aku bakan tidak pernah menghitung s...

Jajanan Sukabumi

Gambar
Sukabumi emang ngga se-wah Jakarta, Bandung, atau kota-kota besar di indonesia. Bahkan sebagian orang mengenal sukabumi hanya dari pantai nyi roro kidul nya saja. Terlebih lagi, kota sukabumi ini hanya seperti kuku jari di bandingkan dengan kabupatennya yang luas. Eit's tapi jangan salah, tentu banyak hal yang bisa dijumpai di kota yang masuk kedalam wilayah jawa barat ini. Mulai dari arena refting nya yang sangat terkenal, pemandian air blerang, pantai parangtritis, wisata stasiun tua, serta bangunan-bangunan lain sisa-sisa penjajahan Belanda. Letak Sukabumi ini cukup strategis, bukan hanya karna di apit oleh bandung, cianjur dan bogor, tapi juga sepanjang jalan kota yang memudahkan kita untuk bisa melihat megahnya gunung gede. Tidak heran rasanya jika penduduk di ibukota memilih untuk pindah ke kota ini. Bukan karena akses jalan tol yang memudahkan mereka bepergian. Tapi juga karena lahan persawahan yang bisa membuat kita begitu merindukan rumah. Ahh, tidak cukup rasanya me...

I found my happiness

Aku masih ingat ketika dua tahun lalu ada seseorang mengajukan pertanyaan sederhana yang ku rasa sulit ku jawab. ‘Apa cita-cita kamu’. Beberapa detik setelah itu biasanya aku cuma diam sambil mencoba berfikir keras dan mereka ulang apa yang ingin kulakukan pada masa depan, ‘aaaa..’ tapi belum ku temukan jawabannya. ‘Kamu gak punya keinginan’ ia bertanya sekali lagi. ‘Klo cita-cita, kayanya aku belum punya. Tapi klo keinginan, kayanya aku Cuma mau kebahagiaan.’ Jawab ku sambil tersenyum. ‘Cuma itu.’ Ia tertawa tipis. ‘Hey, kebahagiaan itu banyak artinya.’ Argumen itu seolah-olah menganggap ku gila. ‘Hey, kebahagiaan itu gak bias diartiin.’ Jawab ku pasti. ‘Oooouuukeyyy, Kamu percaya.’ ‘Percaya apa.’ ‘Percaya klo aku bisa bikin kamu bahagia.’ Aku kembali diam. Mata kami saling bertatapan. Dan tersenyum. ‘Aku mau mewujudkan cita-cita kamu, untuk bahagia.’ Ucap mu setengah berbisik. Malam tahun baru ini. ‘Hey, Kamu tahu apa bedanya kamu sama kembang api’ Tanya ...

(Cerpen Fiktif) Dear Ibu..

Gambar
‘Kak, kakak pernah lihat Ibu’ Aku menoleh pada adik di sebelah ku. Ia adik ku, namanya Dava. Jika ku ingat berdasarkan kelahirannya, sepertinya ia sekarang berusia 7 tahun. Ia memang bukan adik kandung ku. Tapi kami berkeluarga. Kami tinggal di panti asuhan yang sama. Namanya ‘Kasih Ibu’. Tapiiii, kita semua disini sepertinya tidak punya Ibu kandung, yang kami punya hanya Ibu Mariam, pemilik panti ini. Sekalipun ia menganggap kami semua adalah anaknya dan kami menganggap Ibu Mariam adalah Ibu kami, tapi sedikit sekali waktu yang bisa kita dapatkan dari beliau. Beberapa bulan ini, Ibu berkepala empat ini mulai sibuk mencari dana karena ia tidak ingin kami putus sekolah. Ia memang baik, baikkk sekali. Ibu Mariam memang suka pada anak-anak, sayangnya semenjak suaminya meninggal pada kecelakaan pelatihan TNI beliau memutuskan untuk tetap setia sekalipun sang suami tidak meninggalkan buah hati. Sekarang Ibu Mariam bersama sekitar 23 anak panti lainnya hidup didalam rumah warisan almarh...

(Cerpen) Bukti Cinta Ibu untuk Ayah

Gambar
Ini masih terlalu dini untuk bangun tidur. Rasanya masih sekitar jam satu. Malam itu aku mendengar suara sesorang tersengguk-sengguk seperti sehabis menangis. Aku mencoba mencari kejelasan dalam telingaku. Sepertinya itu ibu. Kemudian aku intip perlahan. Ia duduk diatas sajadahnya lengkap dengan mukena dan Al-Quran. Aku sudah sering melihatnya mengaji setelah tahajud. Tapi pemandangan ini lain, ia menangis. Dan aku tidak tahu kenapa. Aku mungkin anak bodoh, yang malah canggung untuk bertanya pada Ibu, kenapa ia menangis. Tapi aku memang tidak tahu harus berbuat apa. Pagi harinya, seperti biasa Ibu menyiapkan sarapan dan membantuku bergegas kesekolah. Kali ini pemandangan nya berbeda. Ia tersenyum seperti biasa. Tetap sigap menjadi ibu rumah tangga. Aku malah jadi berfikir, ahh mungkin yang semalam ku lihat itu mimpi. dan aku jalani hari ini seperti biasa, tanpa bertanya dan membahas kabar Ibu. Beberapa bulan kemudian. Sewaktu subuh, Ibu berteriak, mengadu kesakitan. Aku s...

(Cerpen) Malaikat ku

Gambar
Aku menyayanginya. Sungguh. Aku memang menyayanginya lebih dari apapun, bahkan lebih dr diriku sendiri. entah karena apa, mungkin karena tidak ada orang lain yg bisa kusayangi. Atau mungkin karena aku memang tidak punya siapa-siapa lagi selain dia. Perempuan itu berdiri didepan SD swasta, berjualan gorengan seperti biasa. Tubuhnya yg terkena panas nya wajan membuat nya nampak hangat dan menyenangkan. Aroma tubuhnya yang bahkan hampir sulit dibedakan dengan aroma jajanan gorengan nya pun sama-sama ku suka. Aku? Aku adalah seorang Tukang becak yang sudah saban hari memarkirkan kendaraan ku di sekitar SD. Aku bahkan sudah lupa, sejak kapan aku menjadi tukang becak. Setahu ku, saat usia ku masih belasan, seorang tetangga berusia renta memberiku becak tua nya, karena ia akan ikut dengan anak serta menantunya ke Jakarta. Ia bilang, lebih baik aku bekerja daripada luntang lantung seperti anak muda di warung kopi yg malah lebih sering minum bir dibanding kopi. Akhirnya aku terima becak...

Usia Emosi

Gambar
Tanpa kita sadari, emosi didalam diri kita itu memiliki usia masing-masing. Ketika kita berulang tahun, kita selalu berharap panjang umur, tapi hanya sebagian yang menyadari bahwa ketika usia semakin dewasa, maka emosi pun akan semakin dewasa pula. Saat kita lahir hingga mulai berjalan, mungkin yang kita tangisi hanyalah meminta bantuan untuk makan, tidur, sampai buang air. Seluruh emosi kasih sayang terpusat pada diri kita. Ketika wajah kita mulai terbentuk dan memiliki raut-raut seorang anak, yang akan kita tangisi adalah meminta mainan, menonton tv, sampai jalan-jalan. Pada usia ini, apa yang kita lakukan, tidak akan pernah dianggap salah, karena terhitung pembelajaran. Baik itu menangis, memukul, ataupun merusak barang. Ketika kita mulai masuk sekolah dasar, kita akan menangis untuk tidak ditinggalkan oleh Ibu atau Ayah, dan sebaliknya, kita akan merasa senang ketika bertemu Ibu atau Ayah. Saat ini, kita akan merasa bahagia mengenal dunia diluar rumah. Mengenal nyanyian, tarian,...